Cerita ini berawal saat liburan
kenaikan sekolah. Hai kenalin nama ku Lizzie, teman-temanku sih biasa panggil
aku Izzie.
Seperti biasa setiap liburan tiba, aku
dan teman-teman karibku mengadakan pesta piama. CL, Dara dan aku menginap di
rumah Tifani, ya kami malam ini berpesta piama di rumah Tifani. Setalah tengah
malam tiba dan kami pun siap melakukan obralan tengah malam.
“Mate kini saat nya kita Menjadi
Saudara Sedarah,” kata CL dengan nada suara yang serius. “Maksudmu ?” Tanya
Dara. “Buku Izzie itu bilang kalau ingin punya ikatan seumur hidup dengan
teman, cara terbaik adalah dengan menusuk jari kita dengan jarum, lalu
menekankan titik luka yang berdarah itu ke titik di jari teman kita. Itu akan
menjadikan kita bersaudara seumur hidup.”
“Ah kamu gila yah CL ?” seru fani, ya
fani nama panggilan Tifani, karena nama depan
yang menurut kami terlalu kepanjangan. Hehe. “Ide bagus tuh.”kata Dara.
“ yasudah kita ayo lakukan saja persaudara lewat dara itu,” kata CL. “Pasti
seru banget dan kita akan bersahabat selama-lamanya.”
Kugelengkan kepalaku.”Ga ah, kayanya
culun banget. Itu kan kerjaan nya anak kecil, anak SMP…”
“yah, benar tuh kata Izzie, itu kan
rasa nya pasti sakit. Apa gak ada cara lain yang bisa mengikat kita seumur
hidup ? sesuatu yang gak bikin sakit” Kata fani. Ia meraih keripik Singkong.
“Bagaimana kalau kita mengigit satu keripik bergiliran. Ikatan lewat Singkong.
Intinya sama aja kan ? saling berbagi, memikat hati”.
Aku tertawa. Fani tidak pernah menganggap
serius mantra-mantra. “Oke deh, kalu begitu edar kan keripik nya,” kataku. Fani mengambil sekeping keripik dari
wadahnya, lalu kami mengerdarkan nya, masing-masing mengigit nya sedikit.
“Oke, bersama kekuatan yang di berikan
kepadaku oleh keripik singkong ini,” kataku dengan nada serius, “dengan ini ku
nyatakan keempat gadis yang malam ini
berkumpul di sini akan menjadi sahabat selalu dan selamanya, terikat
oleh kekuatan keripik Singkong Yang Agung.”
Dara dan Fani mulai tertawa. “Hidup
sang Singkong.” Kata Dara.”Hidup,” seru CL dan aku serentak.
Aku dapat ide. “Oke, bagaimana kalau
begini ? kalau ingin punya pengalaman yang betul-betul mengikat, kita lakukan
saja sesuatu yang bakal membuat kita tampak keren!”
“Apa maksudmu ?” Tanya CL. “Bagaimana
kalu kita menindik pusar?” kataku. Semua terdiam. Kayanya mereka tidak
menyangka aku bakal mengusulkan hal seperti itu, tapi sudah cukup lama aku
berniat melakukannya. Demi image baru.
Kami akan masuk kelas sepuluh hari Senin minggu depan dan entah kenapa aku
ingin meninggalkan Izzie yang lama bersama masa lalu.
“Hmmm,” kata Dara akhirnya. “Menindik
pusar mungkin bakal sakit juga kan ? bahkan lebih. Tapi… sebenarnya aku juga
pengen sih.” Ia menepuk perut nya yang luar biasa rata. “Yeah, giwang di pusar
akan tampak cantik.”
“gak bakal sakit deh,” kataku “Candie
aja memakainya. Dia bilang katanya mereka mengolesakan sesuatu di perut kita
untuk membuatnya mati rasa supaya kamu gak merasa sakit.”
CL kelihatan ragu-ragu. “Aku gak yakin
nih. Perut kalian kan rata, sedangkan perutku buncit. Apa bagusnya tindik pusar
kalau perut kita gak seperti papan cuci. Lagi pula, memangnya gak mahal ?
kayanya aku gak bakal mampu, dengan jumlah uang saku yang kudapat.”
“Benar juga,” Kata Fani “Harga
bagaimana menurut kalian ?” “Aku punya jalan keluar,” kayanya sih gak terlalu
mahal deh, maksudku, kita kan gak bakal membeli intan atau emas sungguhan atau
sejenisnya.” Kataku
CL tetap saja kelihatan cemas. “Aku
gak yakin ayah dan ibuku bakal mengijinkannya.”
“Mereka gak perlu melihatnya,” kata
Dara .“Kita sudah akan kembali masuk sekolah minggu depan. Sebentar lagi kita
akan memakai pakaian musim dingin. Gak bakal ada orang yang bisa melihatnya.”
“Kalau begitu apa gunanya kita
menindik pusar?” Tanya CL. “Hanya untuk saat-saat kita jalan bareng, sayang,”
kata Dara. “Kalau kita memakai blus pendek.”
“Iya juga sih,” kata CL.
“Jadi semua setuju?” tanyaku.
Yang lainnya mengangguk, CL tampak
agak ogah-ogahan. “Oke, kalau begitu,” kataku “Besok pagi. Aku akan ke tempat
di Kentish Town biasa kita manggung. Kita akan kesana.”
Sabtu pagi kami pun pergi ke Kentish
Town. Setelah sampai di depan kios tato kenapa aku menjadi ragu-ragu, punya ide
memang gampang, tapi melakukannya itu urusan lain, dan jelas aku merasa gugup.
Tetapi aku tetap memberusahakan menghibur diri kalau semua akan baik-baik saja.
“Maaf banget yah, tapi aku benar-benar
ga bisa melakukannya, kalau saja sampai Ayah dan Ibu ku tahu mereka bisa
membunuhku.” lanjut CL “walaupun kita sepakat ubtuk tidak memberitahu orang
tuakita, tapi… aku gak berani ngambil resik. Kalian tahu kan Ayah aku seperti
apa?”
Kami semua mengangguk. Semua orang
menyebut Ayah CL Scray Dad. Dia sangat ketat juga bertampang serius. Mungkin
aku juga bakal mundur kalau ia ayahku.
“Apalagi kita kan gak tahu harga nya
berapa ? dan aku sudah menghabiskan hampir semua uang saku ku bulan ini, dan
kalau minta tambahan Ayah sama Ibu bisa curiga. Mereka pasti mau tahu untuk apa
uang itu.” Kata CL.
“Jangan khawatir, CL. Aku dan Dara
akan masuk duluan dan menanyakan nya, kami akan mencari tahu apakah semua oke.
Kalau tidak meyakinkan, kita gak jadi saja, oke?” kataku.
“Pasti semuanya oke deh.” Kata Fani.
Saat sampai disana, salah satu cowok yang berjanggut tersenyum kepada kami,
“Bisa saya bantu nona-nona?” tanyanya.
“Ngng, ya.” Kataku “ Kami ingin Tanya
soal tindik.”
“Jadi, apa yang ingin kalian ketahui?”
“Berapa harga tindik pusar?” Tanya Dara.
“Tiga ratus ribu,” katanya
“Oke, tunggu sebentar kami panggil teman kami dulu diluar” kataku.
“Jadi, apa yang ingin kalian ketahui?”
“Berapa harga tindik pusar?” Tanya Dara.
“Tiga ratus ribu,” katanya
“Oke, tunggu sebentar kami panggil teman kami dulu diluar” kataku.
“Harganya tiga rtus ribu.” Kata Dara.
“Aku betul-betul gak bisa ikut kalau begitu,” kata CL. “Aku Cuma punya seratus lima puluh ribu.”
“Mungkin mereka mau memberi diskon,” kata Dara sambil melirik Fani, karena Fani yang paling Oke diantara kami.
“Aku betul-betul gak bisa ikut kalau begitu,” kata CL. “Aku Cuma punya seratus lima puluh ribu.”
“Mungkin mereka mau memberi diskon,” kata Dara sambil melirik Fani, karena Fani yang paling Oke diantara kami.
CL meninju lenganku. “Haha memang nya
uangmu cukup?”
“Aku punya empat ratus ribu,” kata Dara “Aku bisa meminjamkanmu seratus ribu.”
“Aku punya tiga ratus lima puluh ribu, jadi aku bisa meminjamkanmu lima puluh ribu, jadi semua pas kan ? iya kan Fan ?” tanyaku
“Yah sepertinya uangku cukup.”kata Fani.
“Yasudah sekarang kita masuk.” Kataku.
“Aku punya empat ratus ribu,” kata Dara “Aku bisa meminjamkanmu seratus ribu.”
“Aku punya tiga ratus lima puluh ribu, jadi aku bisa meminjamkanmu lima puluh ribu, jadi semua pas kan ? iya kan Fan ?” tanyaku
“Yah sepertinya uangku cukup.”kata Fani.
“Yasudah sekarang kita masuk.” Kataku.
Kami semua pun masuk ke tempat kios
tadi, dan seperti biasa CL kelihatan ogah-ogahan.
“Jadi siapa yang duluan?” tanyaku.
“Aku duluan,” kaya Fani. “Aku benci menunggu dan mau ini cepat selesai.”
“Kalau begitu aku yang nomor dua.”
Kataku.
Fani berbaring dikursi, kemudian aku
tidak bisa melihatnya lagi karena si pentato menghalangi pandanganku.
Rasanya tidak lama. Fani keluar
beberapa saat kemudian dan menarik napas dalam-dalam. “Gak terlalu sakit.
Seperti tindik telinga saja.” Katanya.
“Berikutnya,” panggil si pentato
“Berikutnya,” panggil si pentato
Aku bangkit dan merasakan lututku
lemas. Masih bisa kabur tidak yah ? ini ide tolol siapa sih ? aku bertanya pada
diriku sendiri.
“Aku boleh masuk dan melihat gak?”
Tanya Dara. “Aku ingin akan diapakan saja nanti.”
“Tentu,” kata sipentato “Kalian semua boleh masuk kalau mau.”
“Eh, tidak, terima kasih,” kata CL. “Aku menunggu saja sama Fani.”
“Tentu,” kata sipentato “Kalian semua boleh masuk kalau mau.”
“Eh, tidak, terima kasih,” kata CL. “Aku menunggu saja sama Fani.”
Aku berbaring di kursi seperti Fani
tadi, kemudian memejamkan mata. Setelah beberapa saat aku spontan menjerit dan
“Auwwwwwwww… arghhhhhh,”
“Sudah selesai.” Si pentato tersenyum,
mengambil plester dan menempelkannya di pusarku.
“Uh,” hanya itu yang bisa kukatakan
saat turun dari kursi.
Wajah Dara berubah pucat dan berbalik
meninggalkan ruangan. “Ngng, terimakasih,” ia berbisik, “tapi kayanya aku lain
kali saja deh.”
“Dan jangan membuka tindik sebelum
empat sampai enam minggu,” kata si pentato, “Dua bulan lebih baik. Aku serius,
kalian harus memberi kesempatan padalukanya untuk benar-benar sembuh. Aku tahu
kalian para gadis selalu tidak sabar untuk memakai batu-batu cantik, sehingga
mulai memasang hiasan sebelum waktunya. Tindakan itu akan sangat buruk.”
Kemudian ia menyodorkan dua botol krim pembersih. “gunakan ini untuk
membersihkan daerah yang luka tiga kali sehari, dan berhati-hatilah agar giwang
tindiknya tidak tersangkut di baju pada hari-hari pertama.”
Aku mengangguk seolah mengerti tapi
sebenarnya tidak yakin apakah aku telah menyimak kata-katanya. Kami membayar
biaya penindikan dan akhirnya pergi dari sana. Aku menghirup udara
banyak-banyak begitu kami sampai di jalan.
“Ku traktir minum,” kata Dara saat
kami menuju Taman Kota. “Aku merasa bersalah karena kehilangan nyali.” dan
akhirnya CL dan Dara bersedia menjadi budak Izzie dan Fani karena mereka merasa
bersalah untuk tidak memasang tindik pusar.
Saat di taman, ternyata ada seorang
cowok yang sedang memperhatikan kami. Tak lama kemudian cowok itupun
menghampiri kami dan langsung menyodorkan tangan nya kearah kami, “Hai para
gadis,” sapanya “Kenalin namaku Josh, siapakah nama kalian? Bolehkah aku tahu
nona manis?” kami merasa heran kenapa tiba-tiba ada seorang cowok yang
menghampiri kami dan ingin tahu nama kami. Aku dan Fani pun tak bisa menolak
karena takut disangka cewek sombong, sok jual mahal.
“namaku Izzie.” Kataku “dan ini teman
ku Fani.” “nama yang bagus.” Katanya sambil melontarkan senyuman. Tak lama
kemudian CL dan Dara datang, dan mereka merasa heran ada seorang cowok berdiri
didepan kami. Setelah itu Josh pergi begitu saja. “ Dasar cowok aneh.” Kataku.!
Keesokan hari nya aku mengundang
Tifani datang kerumah untuk membantuku memilah-milah bajuku yang sudah lama,
dan aku pikir kini saatnya untuk merubah semua penampilan menjadi lebih modis
dan keren.
“Ini,coba ini. Hitam bagus untuk kesan
‘anggun’, terutama kalau kau mengenakannya dengan aksesoris yang tepat.”
Aku membuka atasan biru yang kukenakan
dan memasukan kaos hitam itu.
“Oh, hai Fani,” kata Mama ketika dia
lewat kamarku dan melihat ada Fani disana. “Aku tidak tahukau ada disni. Izzie
aku saja mampir ke pasar tamanan dan… apa itu…?”
Ooow aku berusaha menarik kaosku
supaya Mama tidak melihat tindikku, tapi terlambat mata elang Mama telah
meilhatnya.
Izzie!
Kau menindik pusarmu, ya?”
“Bukan.” Kutarik kaos itu sepanjang mungkin.
“Coba kulihat.” Ia masuk ke kamar.
“Oh sudahlah, Mah, biarkan saja ya.” Aku coba merayu
“Coba aku lihat.” Ia memaksa
“Bukan.” Kutarik kaos itu sepanjang mungkin.
“Coba kulihat.” Ia masuk ke kamar.
“Oh sudahlah, Mah, biarkan saja ya.” Aku coba merayu
“Coba aku lihat.” Ia memaksa
Dengan
ogah-ogahan, aku mengangkat kaosku dan ekspresi wajah Mama langsung menegang.
“Kapan kau
memasangnya?”
“Kemarin.”
“Di mana?”
“Kentish Town.”
“Kau tahu soal ini, Fani?” Tanya Mam, dan Fani kelihatan gugup saat ditanya oleh Ibuku.
“Fani gak tahu apa-apa, Mah.” Berusaha untuk tidak melibatkan Fani hal ini, karena ini merupakan keputusanku sendiri.
“Lepaskan sekarang juga.”
“Gak bisa,” kataku
“Bisa dan harus !”
“Gak bisa. Aku gak boleh melepaskannya selama beberapa minggu, kalau tidak lubang nya aku menutup kembali.”
“Kau lepaskan sekarang nona! Kita bahkan tidak pernah mwmbicarakn soal ini.”
“Karena aku tahu Mama pasti tidak akan mengizinkannya. Seharusnya Mama mengetuk pintu dulu,” kataku tiba-tiba merasa marah. Jika ia mengetuk pintu, aku bisa memakai kaos itu dan tidak ada yang akan terjadi.
“Kemarin.”
“Di mana?”
“Kentish Town.”
“Kau tahu soal ini, Fani?” Tanya Mam, dan Fani kelihatan gugup saat ditanya oleh Ibuku.
“Fani gak tahu apa-apa, Mah.” Berusaha untuk tidak melibatkan Fani hal ini, karena ini merupakan keputusanku sendiri.
“Lepaskan sekarang juga.”
“Gak bisa,” kataku
“Bisa dan harus !”
“Gak bisa. Aku gak boleh melepaskannya selama beberapa minggu, kalau tidak lubang nya aku menutup kembali.”
“Kau lepaskan sekarang nona! Kita bahkan tidak pernah mwmbicarakn soal ini.”
“Karena aku tahu Mama pasti tidak akan mengizinkannya. Seharusnya Mama mengetuk pintu dulu,” kataku tiba-tiba merasa marah. Jika ia mengetuk pintu, aku bisa memakai kaos itu dan tidak ada yang akan terjadi.
Dengan
terpaksa aku melepaskan tindikku, karena mama bersikeras aku harus melepasnya,
bahkan ia menunggu di luar kamar mandi.
“Aku akan
membuang ini ke tempat sampah.” Katanya, membungkus dengan tisu seolah itu
kotoran. “Dan jangan kira kita sudah selesai Lizzie!”
Setelah Mom
meninggalkan kamarku aku segera menelpon Dara dan menceritakan tentang kejadian
tadi.
“Begini, kau
mau ketemu aku di Café biasa kita nongkrong? aku punya ide.” Kataku
“Apa?”
“Akan kuberitahu nanti,” kataku “Temui aku disana satu jam lagi. oke!”
“Yasudah.” Lalu dia menutup telponnya.
“Apa?”
“Akan kuberitahu nanti,” kataku “Temui aku disana satu jam lagi. oke!”
“Yasudah.” Lalu dia menutup telponnya.
Ternyata aku
lebih dulu sampai disana, disebelah Café ada toko yang ku tuju dan untungnya
buka karena hari itu hari Minggu. Aku masuk dan melihat berbagai macam
perhiasan. Aku menemukan giwang baru. Cantik banget, berwarna perak dengan batu
bening persegi empat yang memantulkan warna pelangi. Aku membelinya, kemudian
pergi ke Café langsung masuk ke toilet wanita. Dan aku segera memasang giwang
baruku.walaupun aku ingat sejenak kata si pentato itu kalau aku harus menunggu
beberapa minggu.
Kemudian aku
menarik napas dalam-dalam dan menekan giwang itu dengan satu gerakan cepat. “
Auwwwww AAAUWWWW…”
Terdengar
ketukan pintu. “Kau baik-baik saja?” panggil seorang wanita dengan suara sangat
keras. “Ya, tak apa-apa,” kataku “Masih lama ya?” suara itu mengetak lagi.
“Sebentar lagi.” aku mengusap daerah pusarku dengan air kran, lalu membuka
pintu. Wanita di luar itu memandangku curiga waktu aku keluar, maka kulontarkan
senyuman, seakan semua baik-baik saja,.
Aku duduk di
pojok dekat jendela untuk menikmati seisi Café. Dan hey itu kan cowok yang
waktu di taman kemarin. Dia menuju Café, setelah dia masuk dia duduk tepat di
sebelah kursiku. Tapi aneh nya kok dia malah bersikap biasa gak seperti kemarin
freak. Uuuuppsss dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya,
kemudian dia melontarkan senyuman yang manis.
“Huh dara
lama sekali ya…” gerutuku. Kuputuskan untuk pulang saja karena aku sudah punya
rencana makan malam dirumah Dad. Ku ambil ponsel dan ku kirim pesan singkat
kepada dara. “Ra, aku pulang saja yah, aku sudah menunggumu selama tiga puluh
menit, dan mala mini aku ada acara makan malam dirumah Dad.”
Setelah sampai
dirumah ternyata sikap Mom menjadi berubah total dengan tadi pagi. Dia
menawarkan diri untuk mengantarkan ku kerumah Dad. “Gausah, terima kasih Mam,”
kataku “Aku sudah janji mampir kerumah Ben sebelum kesana. Hanya setengah jam
untuk melatih beberapa lagu buat pentas Sabtu depan.”
“Akhir-akhir ini kau sibuk sekali Izzie. Yasudah nanti kau telpon aku, aku akan datang menjemputmu.”
“Oh gausah khawatir Mom, aku akan minta Dad untuk mengantarku.”
“Kalau begitu jangan terlalu malam,” serunya kepadaku.
“Akhir-akhir ini kau sibuk sekali Izzie. Yasudah nanti kau telpon aku, aku akan datang menjemputmu.”
“Oh gausah khawatir Mom, aku akan minta Dad untuk mengantarku.”
“Kalau begitu jangan terlalu malam,” serunya kepadaku.
“Jadi Iz, ada
lagu baru ?” Tanya Ben sesampai aku dirumahnya.
“Hampir”
“Coba ku lihat”
“Boleh, nih”
“Hampir”
“Coba ku lihat”
“Boleh, nih”
Setelah ku
serahkan naskah lagu yang hamper jadi, ku berbaring di sofa,ku pejamkan mata
biarkan pikiran melayan. Dan tiba-tiba pikiranku tertuju pada Josh, tiba-tiba
hati merasakan getaran semangat yang tak biasa. Kulihat arloji, dan waktu sudah
menunjukkan pukul 18.00, dan sekarang waktunya aku pergi kerumah Dad.
Saat sampai
disana ternyata makan malam sudah siap. Dan aku pun segera makan karena Dad dan
Anna sudah menungguku.
Tanpa bisa
dihindari. Dad bertanya keadaan rumah, maka kuceritakan insiden tindik pusar
itu.
“Kalau Dad, bakal keberatan gak?”
“mungkin tidak, tidak jika kau benar-benar meinginginkannya. Kalau kamu mau melukai tubuhmu itu keputusanmu sendiri.
“Kalau Dad, bakal keberatan gak?”
“mungkin tidak, tidak jika kau benar-benar meinginginkannya. Kalau kamu mau melukai tubuhmu itu keputusanmu sendiri.
Dan bla bla
bla kami pun berbincang-bincang sampai aku tidak menyadari waktu telah
menunjukkan pukul 20.30.aku putuskan untuk segera pulang karena sudah janji
pada Mom untuk tidak pulang terlalu malam.
Hari
berikutnya Aku, Fani dan CLberkumpul di rumah Dara, karena orang tua nya sedang
pergi.
“Berapa lama
orang tua mu akan pergi ?” tanyaku
“sampai sekitar pukul sepuluh tiga puluh, memangnya kenapa?”
“sampai sekitar pukul sepuluh tiga puluh, memangnya kenapa?”
Aku melirik
rak minuman dibawah rak buku belakang sofa. Orangtua Dara punya koleksi minuman
keras. “Aku bisa mencoba minum minuman gak?” tanyaku “Orangtuamu kan sedang
pergi. Hanya mencoba saja.”
“Aku sudah
mencoba hampir semua dan rasanya gak enak banget.” Kata Dara
“Kalau rasanya gak enak,” kataku sambil mengambil beberapa botol lalu mencampurnya.
“Kalau rasanya gak enak,” kataku sambil mengambil beberapa botol lalu mencampurnya.
“Tuhkan
rasanya oke, kalian mau coba ? minuman hasil campuran ku.”
“Boleh, coba aku coba sedikit.” Kata fani dan CL
“Huuuh apa enaknya Izz gak karuan gini. Aku gasuka aaah.” Kata CL
“Ah kamu ini.” Akupun mencoba mencampur minuman yang lain. “Coba yang ini pasti suka.”
“Gak deh trims.”
“Boleh, coba aku coba sedikit.” Kata fani dan CL
“Huuuh apa enaknya Izz gak karuan gini. Aku gasuka aaah.” Kata CL
“Ah kamu ini.” Akupun mencoba mencampur minuman yang lain. “Coba yang ini pasti suka.”
“Gak deh trims.”
Karena mereka
tidak mau maka aku habiskan minuman yang sudah ku campur tadi. Selagi aku minum
mereka menuju ruang depan untuk menonton film. Aku merasa nyaman untuk
berbaring di sofa, dan pikiranku mulai merasa melayang. Aku punya sebuah
apartemen yang mewah dan dipenuhi berbagai minuman. Aku sangat berkes… tidak
maksudku berkes.. tidak ! berkerlas maksudku. Rasanya sangat susah
mengucapkannya.
“Izzie kau
mabuk?” Tanya CL
“Gak ku gak mabuk kok.” Aku tidak merasa mabuk. Aku merasa sehat.
“Ra ke toilet ya.” Rasanya sangat susah merasa sempoyongan. Saat berjalan lurus.
“Gak ku gak mabuk kok.” Aku tidak merasa mabuk. Aku merasa sehat.
“Ra ke toilet ya.” Rasanya sangat susah merasa sempoyongan. Saat berjalan lurus.
Dan kemudian
aku tak ingat apa-apa. Setelah sekian lama aku tertidur, saat membuka mata aku
merasa heran kenapa bisa sampai di kamarku ?
Mungkin ayah
tiriku yang menjemputku semalam. Ya ampuuunnnnn pasti Mom menghukumku untuk
tidak main kerumah Dara setelah liburan selesai. Tapi sungguh ini bukan salah
Dara. Ini salahku. Aku yang mulai semua.
Sedikit
merenung tentang kejadian kemarin itu benar-benar membuatku kapok! selama masa
hukumanku aku putuskan untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk mengisi
hari liburan.
Hari demi
hari aku lewati masa hukumanku dengan santai, dan tak lama sikap Mom mulai
biasa seolah tidak pernah ada insiden malam itu. Saat ulang tahun Mom aku
mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk nya untuk memperbaiki hubungan kami dan
meminta maaf kepadanya.
Hari itu
tiba, ia masih tertidur di tempat tidur nya yang hangat oleh selimut tebal. Aku
masuk, dia terbangun saat aku meletakkan
sebuah sarapan kecil dan hadiah untuknya.
“Ini untukku?”
tanyanya
aku mengganguk. “Selamat ulang tahun.”
“Oh Izzie, indah sekali. Terima kasih. Dan ada kado?”
“Iya itu untuk Mom,” aku memulai pembicaraan “Aku minta maaf karena sudah menjengkelkan akhir-akhir ini, juga aku sangat menghargaimu sebagai seorang Ibu.”
dia tertawa “Aku mengerti Izzie, remaja seusia mu memang suka bertingkah aneh-aneh. Ingin ini itu, ingin mencoba segala hal tanpa tahu apakah itu benar atau salah.”
aku mengganguk. “Selamat ulang tahun.”
“Oh Izzie, indah sekali. Terima kasih. Dan ada kado?”
“Iya itu untuk Mom,” aku memulai pembicaraan “Aku minta maaf karena sudah menjengkelkan akhir-akhir ini, juga aku sangat menghargaimu sebagai seorang Ibu.”
dia tertawa “Aku mengerti Izzie, remaja seusia mu memang suka bertingkah aneh-aneh. Ingin ini itu, ingin mencoba segala hal tanpa tahu apakah itu benar atau salah.”
Dan akhirnya
aku sama Mom pun baikkan. Dan esok harinya aku pun memulai kehidupan baru yang
normal sebagai siswa kelas sepuluh di salah satu SMA Negeri di Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar