Selasa, 12 Maret 2013

JADI DEWASA




Cerita ini berawal saat liburan kenaikan sekolah. Hai kenalin nama ku Lizzie, teman-temanku sih biasa panggil aku Izzie.
Seperti biasa setiap liburan tiba, aku dan teman-teman karibku mengadakan pesta piama. CL, Dara dan aku menginap di rumah Tifani, ya kami malam ini berpesta piama di rumah Tifani. Setalah tengah malam tiba dan kami pun siap melakukan obralan tengah malam.
“Mate kini saat nya kita Menjadi Saudara Sedarah,” kata CL dengan nada suara yang serius. “Maksudmu ?” Tanya Dara. “Buku Izzie itu bilang kalau ingin punya ikatan seumur hidup dengan teman, cara terbaik adalah dengan menusuk jari kita dengan jarum, lalu menekankan titik luka yang berdarah itu ke titik di jari teman kita. Itu akan menjadikan kita bersaudara seumur hidup.”
“Ah kamu gila yah CL ?” seru fani, ya fani nama panggilan Tifani, karena nama depan  yang menurut kami terlalu kepanjangan. Hehe. “Ide bagus tuh.”kata Dara. “ yasudah kita ayo lakukan saja persaudara lewat dara itu,” kata CL. “Pasti seru banget dan kita akan bersahabat selama-lamanya.”
Kugelengkan kepalaku.”Ga ah, kayanya culun banget. Itu kan kerjaan nya anak kecil, anak SMP…”
“yah, benar tuh kata Izzie, itu kan rasa nya pasti sakit. Apa gak ada cara lain yang bisa mengikat kita seumur hidup ? sesuatu yang gak bikin sakit” Kata fani. Ia meraih keripik Singkong. “Bagaimana kalau kita mengigit satu keripik bergiliran. Ikatan lewat Singkong. Intinya sama aja kan ? saling berbagi, memikat hati”.
Aku tertawa. Fani tidak pernah menganggap serius mantra-mantra. “Oke deh, kalu begitu edar kan keripik nya,” kataku.  Fani mengambil sekeping keripik dari wadahnya, lalu kami mengerdarkan nya, masing-masing mengigit nya sedikit.
“Oke, bersama kekuatan yang di berikan kepadaku oleh keripik singkong ini,” kataku dengan nada serius, “dengan ini ku nyatakan keempat gadis yang malam ini  berkumpul di sini akan menjadi sahabat selalu dan selamanya, terikat oleh kekuatan keripik Singkong Yang Agung.”
Dara dan Fani mulai tertawa. “Hidup sang Singkong.” Kata Dara.”Hidup,” seru CL dan aku serentak.
Aku dapat ide. “Oke, bagaimana kalau begini ? kalau ingin punya pengalaman yang betul-betul mengikat, kita lakukan saja sesuatu yang bakal membuat kita tampak keren! 
“Apa maksudmu ?” Tanya CL. “Bagaimana kalu kita menindik pusar?” kataku. Semua terdiam. Kayanya mereka tidak menyangka aku bakal mengusulkan hal seperti itu, tapi sudah cukup lama aku berniat melakukannya. Demi image baru. Kami akan masuk kelas sepuluh hari Senin minggu depan dan entah kenapa aku ingin meninggalkan Izzie yang lama bersama masa lalu.
“Hmmm,” kata Dara akhirnya. “Menindik pusar mungkin bakal sakit juga kan ? bahkan lebih. Tapi… sebenarnya aku juga pengen sih.” Ia menepuk perut nya yang luar biasa rata. “Yeah, giwang di pusar akan tampak cantik.”
“gak bakal sakit deh,” kataku “Candie aja memakainya. Dia bilang katanya mereka mengolesakan sesuatu di perut kita untuk membuatnya mati rasa supaya kamu gak merasa sakit.”
CL kelihatan ragu-ragu. “Aku gak yakin nih. Perut kalian kan rata, sedangkan perutku buncit. Apa bagusnya tindik pusar kalau perut kita gak seperti papan cuci. Lagi pula, memangnya gak mahal ? kayanya aku gak bakal mampu, dengan jumlah uang saku yang kudapat.”
“Benar juga,” Kata Fani “Harga bagaimana menurut kalian ?” “Aku punya jalan keluar,” kayanya sih gak terlalu mahal deh, maksudku, kita kan gak bakal membeli intan atau emas sungguhan atau sejenisnya.” Kataku
CL tetap saja kelihatan cemas. “Aku gak yakin ayah dan ibuku bakal mengijinkannya.”
“Mereka gak perlu melihatnya,” kata Dara .“Kita sudah akan kembali masuk sekolah minggu depan. Sebentar lagi kita akan memakai pakaian musim dingin. Gak bakal ada orang yang bisa melihatnya.”
“Kalau begitu apa gunanya kita menindik pusar?” Tanya CL. “Hanya untuk saat-saat kita jalan bareng, sayang,” kata Dara. “Kalau kita memakai blus pendek.”
“Iya juga sih,” kata CL.
“Jadi semua setuju?” tanyaku.
Yang lainnya mengangguk, CL tampak agak ogah-ogahan. “Oke, kalau begitu,” kataku “Besok pagi. Aku akan ke tempat di Kentish Town biasa kita manggung. Kita akan kesana.”
Sabtu pagi kami pun pergi ke Kentish Town. Setelah sampai di depan kios tato kenapa aku menjadi ragu-ragu, punya ide memang gampang, tapi melakukannya itu urusan lain, dan jelas aku merasa gugup. Tetapi aku tetap memberusahakan menghibur diri kalau semua akan baik-baik saja.
“Maaf banget yah, tapi aku benar-benar ga bisa melakukannya, kalau saja sampai Ayah dan Ibu ku tahu mereka bisa membunuhku.” lanjut CL “walaupun kita sepakat ubtuk tidak memberitahu orang tuakita, tapi… aku gak berani ngambil resik. Kalian tahu kan Ayah aku seperti apa?”
Kami semua mengangguk. Semua orang menyebut Ayah CL Scray Dad. Dia sangat ketat juga bertampang serius. Mungkin aku juga bakal mundur kalau ia ayahku.
“Apalagi kita kan gak tahu harga nya berapa ? dan aku sudah menghabiskan hampir semua uang saku ku bulan ini, dan kalau minta tambahan Ayah sama Ibu bisa curiga. Mereka pasti mau tahu untuk apa uang itu.” Kata CL.
“Jangan khawatir, CL. Aku dan Dara akan masuk duluan dan menanyakan nya, kami akan mencari tahu apakah semua oke. Kalau tidak meyakinkan, kita gak jadi saja, oke?” kataku.
“Pasti semuanya oke deh.” Kata Fani. Saat sampai disana, salah satu cowok yang berjanggut tersenyum kepada kami, “Bisa saya bantu nona-nona?” tanyanya.
“Ngng, ya.” Kataku “ Kami ingin Tanya soal tindik.”
“Jadi, apa yang ingin kalian ketahui?”
“Berapa harga tindik pusar?” Tanya Dara.
“Tiga ratus ribu,” katanya
“Oke, tunggu sebentar kami panggil teman kami dulu diluar” kataku.
“Harganya tiga rtus ribu.” Kata Dara.
“Aku betul-betul gak bisa ikut kalau begitu,” kata CL. “Aku Cuma punya seratus lima puluh ribu.”
“Mungkin mereka mau memberi diskon,” kata Dara sambil melirik Fani, karena Fani yang paling Oke diantara kami.
CL meninju lenganku. “Haha memang nya uangmu cukup?”
“Aku punya empat ratus ribu,” kata Dara “Aku bisa meminjamkanmu seratus ribu.”
“Aku punya tiga ratus lima puluh ribu, jadi aku bisa meminjamkanmu lima puluh ribu, jadi semua pas kan ? iya kan Fan ?” tanyaku
“Yah sepertinya uangku cukup.”kata Fani.
“Yasudah sekarang kita masuk.” Kataku.
Kami semua pun masuk ke tempat kios tadi, dan seperti biasa CL kelihatan ogah-ogahan.
“Jadi siapa yang duluan?” tanyaku. “Aku duluan,” kaya Fani. “Aku benci menunggu dan mau ini cepat selesai.”
“Kalau begitu aku yang nomor dua.” Kataku.
Fani berbaring dikursi, kemudian aku tidak bisa melihatnya lagi karena si pentato menghalangi pandanganku.
Rasanya tidak lama. Fani keluar beberapa saat kemudian dan menarik napas dalam-dalam. “Gak terlalu sakit. Seperti tindik telinga saja.” Katanya.
“Berikutnya,” panggil si pentato
Aku bangkit dan merasakan lututku lemas. Masih bisa kabur tidak yah ? ini ide tolol siapa sih ? aku bertanya pada diriku sendiri.
“Aku boleh masuk dan melihat gak?” Tanya Dara. “Aku ingin akan diapakan saja nanti.”
“Tentu,” kata sipentato “Kalian semua boleh masuk kalau mau.”
“Eh, tidak, terima kasih,” kata CL. “Aku menunggu saja sama Fani.”
Aku berbaring di kursi seperti Fani tadi, kemudian memejamkan mata. Setelah beberapa saat aku spontan menjerit dan “Auwwwwwwww… arghhhhhh,”
“Sudah selesai.” Si pentato tersenyum, mengambil plester dan menempelkannya di pusarku.
“Uh,” hanya itu yang bisa kukatakan saat turun dari kursi.
Wajah Dara berubah pucat dan berbalik meninggalkan ruangan. “Ngng, terimakasih,” ia berbisik, “tapi kayanya aku lain kali saja deh.”
“Dan jangan membuka tindik sebelum empat sampai enam minggu,” kata si pentato, “Dua bulan lebih baik. Aku serius, kalian harus memberi kesempatan padalukanya untuk benar-benar sembuh. Aku tahu kalian para gadis selalu tidak sabar untuk memakai batu-batu cantik, sehingga mulai memasang hiasan sebelum waktunya. Tindakan itu akan sangat buruk.” Kemudian ia menyodorkan dua botol krim pembersih. “gunakan ini untuk membersihkan daerah yang luka tiga kali sehari, dan berhati-hatilah agar giwang tindiknya tidak tersangkut di baju pada hari-hari pertama.”
Aku mengangguk seolah mengerti tapi sebenarnya tidak yakin apakah aku telah menyimak kata-katanya. Kami membayar biaya penindikan dan akhirnya pergi dari sana. Aku menghirup udara banyak-banyak begitu kami sampai di jalan.
“Ku traktir minum,” kata Dara saat kami menuju Taman Kota. “Aku merasa bersalah karena kehilangan nyali.” dan akhirnya CL dan Dara bersedia menjadi budak Izzie dan Fani karena mereka merasa bersalah untuk tidak memasang tindik pusar.
Saat di taman, ternyata ada seorang cowok yang sedang memperhatikan kami. Tak lama kemudian cowok itupun menghampiri kami dan langsung menyodorkan tangan nya kearah kami, “Hai para gadis,” sapanya “Kenalin namaku Josh, siapakah nama kalian? Bolehkah aku tahu nona manis?” kami merasa heran kenapa tiba-tiba ada seorang cowok yang menghampiri kami dan ingin tahu nama kami. Aku dan Fani pun tak bisa menolak karena takut disangka cewek sombong, sok jual mahal.
“namaku Izzie.” Kataku “dan ini teman ku Fani.” “nama yang bagus.” Katanya sambil melontarkan senyuman. Tak lama kemudian CL dan Dara datang, dan mereka merasa heran ada seorang cowok berdiri didepan kami. Setelah itu Josh pergi begitu saja. “ Dasar cowok aneh.” Kataku.!
Keesokan hari nya aku mengundang Tifani datang kerumah untuk membantuku memilah-milah bajuku yang sudah lama, dan aku pikir kini saatnya untuk merubah semua penampilan menjadi lebih modis dan keren.
“Ini,coba ini. Hitam bagus untuk kesan ‘anggun’, terutama kalau kau mengenakannya dengan aksesoris yang tepat.”
Aku membuka atasan biru yang kukenakan dan memasukan kaos hitam itu.
“Oh, hai Fani,” kata Mama ketika dia lewat kamarku dan melihat ada Fani disana. “Aku tidak tahukau ada disni. Izzie aku saja mampir ke pasar tamanan dan… apa itu…?”
Ooow aku berusaha menarik kaosku supaya Mama tidak melihat tindikku, tapi terlambat mata elang Mama telah meilhatnya.
Izzie! Kau menindik pusarmu, ya?”
“Bukan.” Kutarik kaos itu sepanjang mungkin.
“Coba kulihat.” Ia masuk ke kamar.
“Oh sudahlah, Mah, biarkan saja ya.” Aku coba merayu
“Coba aku lihat.” Ia memaksa
Dengan ogah-ogahan, aku mengangkat kaosku dan ekspresi wajah Mama langsung menegang.
“Kapan kau memasangnya?”
“Kemarin.”
“Di mana?”
“Kentish Town.”
“Kau tahu soal ini, Fani?” Tanya Mam, dan Fani kelihatan gugup saat ditanya oleh Ibuku.
“Fani gak tahu apa-apa, Mah.” Berusaha untuk  tidak melibatkan Fani hal ini, karena ini merupakan keputusanku sendiri.
“Lepaskan sekarang juga.”
“Gak bisa,” kataku
“Bisa dan harus
!”
“Gak bisa. Aku gak boleh melepaskannya selama beberapa minggu, kalau tidak lubang nya aku menutup kembali.”
“Kau lepaskan sekarang nona! Kita bahkan tidak pernah mwmbicarakn soal ini.”
“Karena aku tahu Mama pasti tidak akan mengizinkannya. Seharusnya Mama mengetuk pintu dulu,” kataku tiba-tiba merasa marah. Jika ia mengetuk pintu, aku bisa memakai kaos itu dan tidak ada yang akan terjadi.
Dengan terpaksa aku melepaskan tindikku, karena mama bersikeras aku harus melepasnya, bahkan ia menunggu di luar kamar mandi.
“Aku akan membuang ini ke tempat sampah.” Katanya, membungkus dengan tisu seolah itu kotoran. “Dan jangan kira kita sudah selesai Lizzie!”
Setelah Mom meninggalkan kamarku aku segera menelpon Dara dan menceritakan tentang kejadian tadi.
“Begini, kau mau ketemu aku di Café biasa kita nongkrong? aku punya ide.” Kataku
 “Apa?”
“Akan kuberitahu nanti,” kataku “Temui aku disana satu jam lagi. oke!”
“Yasudah.” Lalu dia menutup telponnya.
Ternyata aku lebih dulu sampai disana, disebelah Café ada toko yang ku tuju dan untungnya buka karena hari itu hari Minggu. Aku masuk dan melihat berbagai macam perhiasan. Aku menemukan giwang baru. Cantik banget, berwarna perak dengan batu bening persegi empat yang memantulkan warna pelangi. Aku membelinya, kemudian pergi ke Café langsung masuk ke toilet wanita. Dan aku segera memasang giwang baruku.walaupun aku ingat sejenak kata si pentato itu kalau aku harus menunggu beberapa minggu.
Kemudian aku menarik napas dalam-dalam dan menekan giwang itu dengan satu gerakan cepat. “ Auwwwww AAAUWWWW…”
Terdengar ketukan pintu. “Kau baik-baik saja?” panggil seorang wanita dengan suara sangat keras. “Ya, tak apa-apa,” kataku “Masih lama ya?” suara itu mengetak lagi. “Sebentar lagi.” aku mengusap daerah pusarku dengan air kran, lalu membuka pintu. Wanita di luar itu memandangku curiga waktu aku keluar, maka kulontarkan senyuman, seakan semua baik-baik saja,.
Aku duduk di pojok dekat jendela untuk menikmati seisi Café. Dan hey itu kan cowok yang waktu di taman kemarin. Dia menuju Café, setelah dia masuk dia duduk tepat di sebelah kursiku. Tapi aneh nya kok dia malah bersikap biasa gak seperti kemarin freak. Uuuuppsss  dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya, kemudian dia melontarkan senyuman yang manis.
“Huh dara lama sekali ya…” gerutuku. Kuputuskan untuk pulang saja karena aku sudah punya rencana makan malam dirumah Dad. Ku ambil ponsel dan ku kirim pesan singkat kepada dara. “Ra, aku pulang saja yah, aku sudah menunggumu selama tiga puluh menit, dan mala mini aku ada acara makan malam dirumah Dad.”
Setelah sampai dirumah ternyata sikap Mom menjadi berubah total dengan tadi pagi. Dia menawarkan diri untuk mengantarkan ku kerumah Dad. “Gausah, terima kasih Mam,” kataku “Aku sudah janji mampir kerumah Ben sebelum kesana. Hanya setengah jam untuk melatih beberapa lagu buat pentas Sabtu depan.”
“Akhir-akhir ini kau sibuk sekali Izzie. Yasudah nanti kau telpon aku, aku akan datang menjemputmu.”
“Oh gausah khawatir Mom, aku akan minta Dad untuk mengantarku.”
“Kalau begitu jangan terlalu malam,” serunya kepadaku.
“Jadi Iz, ada lagu baru ?” Tanya Ben sesampai aku dirumahnya.
“Hampir”
“Coba ku lihat”
“Boleh, nih”
Setelah ku serahkan naskah lagu yang hamper jadi, ku berbaring di sofa,ku pejamkan mata biarkan pikiran melayan. Dan tiba-tiba pikiranku tertuju pada Josh, tiba-tiba hati merasakan getaran semangat yang tak biasa. Kulihat arloji, dan waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, dan sekarang waktunya aku pergi kerumah Dad.
Saat sampai disana ternyata makan malam sudah siap. Dan aku pun segera makan karena Dad dan Anna sudah menungguku.
Tanpa bisa dihindari. Dad bertanya keadaan rumah, maka kuceritakan insiden tindik pusar itu.
“Kalau Dad, bakal keberatan gak?”
“mungkin tidak, tidak jika kau benar-benar meinginginkannya. Kalau kamu mau melukai tubuhmu itu keputusanmu sendiri.
Dan bla bla bla kami pun berbincang-bincang sampai aku tidak menyadari waktu telah menunjukkan pukul 20.30.aku putuskan untuk segera pulang karena sudah janji pada Mom untuk tidak pulang terlalu malam.
Hari berikutnya Aku, Fani dan CLberkumpul di rumah Dara, karena orang tua nya sedang pergi.
“Berapa lama orang tua mu akan pergi ?” tanyaku
“sampai sekitar pukul sepuluh tiga puluh, memangnya kenapa?”
Aku melirik rak minuman dibawah rak buku belakang sofa. Orangtua Dara punya koleksi minuman keras. “Aku bisa mencoba minum minuman gak?” tanyaku “Orangtuamu kan sedang pergi. Hanya mencoba saja.”
“Aku sudah mencoba hampir semua dan rasanya gak enak banget.” Kata Dara
“Kalau rasanya gak enak,” kataku sambil mengambil beberapa botol lalu mencampurnya.
“Tuhkan rasanya oke, kalian mau coba ? minuman hasil campuran ku.”
“Boleh, coba aku coba sedikit.” Kata fani dan CL
“Huuuh apa enaknya Izz gak karuan gini. Aku gasuka aaah.” Kata CL
“Ah kamu ini.” Akupun mencoba mencampur minuman yang lain. “Coba yang ini pasti suka.”
“Gak deh trims.”
Karena mereka tidak mau maka aku habiskan minuman yang sudah ku campur tadi. Selagi aku minum mereka menuju ruang depan untuk menonton film. Aku merasa nyaman untuk berbaring di sofa, dan pikiranku mulai merasa melayang. Aku punya sebuah apartemen yang mewah dan dipenuhi berbagai minuman. Aku sangat berkes… tidak maksudku berkes.. tidak ! berkerlas maksudku. Rasanya sangat susah mengucapkannya.
“Izzie kau mabuk?” Tanya CL
“Gak ku gak mabuk kok.” Aku tidak merasa mabuk. Aku merasa sehat.
“Ra ke toilet ya.” Rasanya sangat susah merasa sempoyongan. Saat berjalan lurus.
Dan kemudian aku tak ingat apa-apa. Setelah sekian lama aku tertidur, saat membuka mata aku merasa heran kenapa bisa sampai di kamarku ?
Mungkin ayah tiriku yang menjemputku semalam. Ya ampuuunnnnn pasti Mom menghukumku untuk tidak main kerumah Dara setelah liburan selesai. Tapi sungguh ini bukan salah Dara. Ini salahku. Aku yang mulai semua.
Sedikit merenung tentang kejadian kemarin itu benar-benar membuatku kapok! selama masa hukumanku aku putuskan untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk mengisi hari liburan.
Hari demi hari aku lewati masa hukumanku dengan santai, dan tak lama sikap Mom mulai biasa seolah tidak pernah ada insiden malam itu. Saat ulang tahun Mom aku mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk nya untuk memperbaiki hubungan kami dan meminta maaf kepadanya.
Hari itu tiba, ia masih tertidur di tempat tidur nya yang hangat oleh selimut tebal. Aku masuk, dia terbangun saat aku  meletakkan sebuah sarapan kecil dan hadiah untuknya.
“Ini untukku?” tanyanya
aku mengganguk. “Selamat ulang tahun.”
“Oh Izzie, indah sekali. Terima kasih. Dan ada kado?”
“Iya itu untuk Mom,” aku memulai pembicaraan “Aku minta maaf karena sudah menjengkelkan akhir-akhir ini, juga aku sangat menghargaimu sebagai seorang Ibu.”
dia tertawa “Aku mengerti Izzie, remaja seusia mu memang suka bertingkah aneh-aneh. Ingin ini itu, ingin mencoba segala hal tanpa tahu apakah itu benar atau salah.”
Dan akhirnya aku sama Mom pun baikkan. Dan esok harinya aku pun memulai kehidupan baru yang normal sebagai siswa kelas sepuluh di salah satu SMA Negeri di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar